| |
Buletin Nagari |
Pesan Singkat |
Statistik Web |
Visitors : 751067 visitors
Hits : 51083 hits
Month : 698 users
Today : 33 users
Online : 5
users |
Sindikasi Berita |
Chatting |
|
|
 |
|
R E N U N G A N Jumat, 15 Mei 09 - oleh : admin
- Nan jauah tu adalah….............MASA LALU
- Nan Dakek tu adalah...............M A T I
- Nan Gadang tu adalah ........... NAFSU
- Nan Barek tu adalah ...............AMANAH
- Nan Panjang tu adalah ...........AMAL SALIAH
- Nan Ringan tu adalah..............BABUEK DOSO
- Nan Paliang elok tu adalah .....PAMA`AF
Dari seluruh kata-kata diatas mungkin diantara kita tidak ada yang bisa menyangkalnya, dari mulai Masa lalu, Maut, Nafsu, Amanah, Berbuat Dosa, Berbuat Amal Saleh dan memberi ma`af, Setiap kita pasti akan mengalaminya.
Dalam ”MERENUNG” untuk Nagari Kotogadang ini seorang Sarok Tapi, ingin mengupas masalah ”Amanah”.
Amanah itu beragam dan dalam bentuk yang berbagai macam kita terima, tergantung kita melihat dan menilainya dari sisi yang mana. Kembali kita bawa pikiran kita dan renungan kita untuk Nagari Kotogadang bukan untuk hal-hal lain.
Kita semua bertanggung jawab dan telah di Amanahi Nagari Kotogadang oleh Nenek Moyang dan leluhur kita masing-masing. Mulai dari yang muda sampai ke orang tua, mulai dari orang biasa sampai keorang yang berpangkat, Mulai dari Anak Nagari sampai dengan Ninik Mamak.
Masing-masing kita sudah memiliki tanggung jawab untuk memikul dan mempertanggung jawabkan Amanah tadi. Kalau Mamak bertanggung jawab terhadap kemanakannya, Walinagari bertanggung jawab terhadap masyarakatnya, Ninik Mamak bertanggung jawab terhadap kaumnya.
Semenjak Amanah tadi diterima, Sudahkah semua Amanah itu kita jalankan dan pertanggungjawabkan ? Sebesar apakah tanggung jawab kita terhadap Amanah khususnya untukNagari Kotogadang tadi..? Apa yang telah kita perbuat untuk Nagari tersebut ?
Lebih berat lagi bagi yang telah menerima semua Amanah dan Tanggungjawab tentang Nagari tadi melalui SUMPAH.
Sumpah yang diucapkan dengan menyebut Asma ALLAH, bahkan ada yang langsung memegang Alquran. Terlebih lagi disa’at Sumpah diucapkan disaksikan oleh kaum sendiri, mungkin oleh masyarakat bahkan Alim Ulama dan para pejabat, berarti mereka itulah yang memikul tanggung jawab paling berat terhadap Nagari Kotogadang.
Dengan mengucapkan Sumpah tadi berarti juga telah berjanji dengan Allah dan diri sendiri serta masyarakat untuk menjalankan dan memikulnya sesuai dengan aturan yang berlaku dan sesuai dengan jabatan yang diterima.
Karena hal itulah bagi Anak Nagari yang mau memahami serta mengerti hal ini seharusnya menghargai mereka yang telah mau menerima Amanah tadi.
Kita dahulukan mereka selangkah untuk membimbing kita kejalan yang benar, kita tinggikan mereka seranting/setingkat karena kearifan dan ilmu serta perilaku mereka yang memang lebih baik dari orang pada umumnya.
Tentunya semua Penghargaan tadi dalam kehidupan ini harus diimbangi dengan bentuk kerja yang jelas dan nyata dalam menjaga Nagari Kotogadang ini oleh yang menerima Amanah tadi. Bukan hanya sekedar untuk di jadikan kebanggaan atau hanya untuk kepentingan pribadi saja.
Mungkin perlu dikutip kata-kata orang hebat di dunia untuk Nagari Kotogadang yang dulunya sangat jaya, ” JANGAN KAMU BERTANYA APA YANG SUDAH DIBERIKAN NAGARI UNTUKMU, TAPI TANYALAH APA YANG SUDAH KAMU BERIKAN UNTUK NAGARI MU”.
Dirasa Renungan ini perlu dibawa kesanubari masing-masing, apabila semua sudah memahami tugas dan tanggungjawab nya terhadap Nagari Kotogadang, penulis yakin Nagari ini akan kembali bersinar kembali, tidak suram bahkan sudah redup seperti sekarang ini.
Betapa berat semua ini harus disampaikan mengingat keadaan Nagari kecil itu sudah jauh ditinggalkan oleh orang-orang yang harusnya menjalankan Sumpahnya terhadap Nagari tersebut. Bila Nagari tersebut bisa menangis entah berapa kubik bahkan Ton air mata yang akan keluar, Bila Nagari tersebut bisa bicara mungkin sudah beribu sumpah serapah dan kutukan yang dikeluarkannya. Betapa sekarang dia ditinggalkan dalam sunyi, betapa sekarang dia dibiarkan sendiri dalam sepi, berapa banyak masalah yang melekat dalam tubuhnya yang sudah menjadi kudis dan tumor ganas dibiarkan tanpa diobati, Bahkan berbagai pengaduan dan permintaan dari Alim Ulama yang selalu menjaga dan menyirami kampung itu dengan Azan, Doa, Bacaan Ayat-ayat Alquran serta perbuatan baik sudah tidak didengarkan. Semua dijawab dengan istilah yang sangat klasik dan begitu anggun bagi orang-orang yang takut mengambil keputusan untuk kebenaran dengan mengeluarkan kata-kata DIPARAMBUNKAN.
Suatu istilah yang sudah basi dan selalu dipakai sampai saat ini,Sampai kapan hal ini akan selalu dilakukan, Sampai kapan hal ini akan bertahan.. dan seberapa banyak lagi kesalahan yang akan ditumpuk.
Semoga .. semoga sedikit tulisan ini bisa menyadarkan kita akan besarnya Amanah yang telah kita terima.
Semua akan kita pertanggung jawabkan nanti... apalagi bagi yang telah di Sumpah menerima Amanah tadi, Betapa beratnya menerima semua itu, betapa susahnya mempertanggung jawabkannya apalagi bila nanti MAUT datang menjemput.
Wassalam
SAROK TAPI
kirim ke teman | versi cetak
Ada 1 komentar tentang artikel ini :
padiah Senin, 15 Juni 09 - oleh : rang tapi | | Terasa sekali apo yang disampaikan dalam tulisanko, memang baitu nasib kami di Kotogadang kini. Orang2 Yang kami arok kan banyak cuma memberi janji, curito dan angin sarugo. kampuang tambah langang.. tapi lah ndak baurang. Nan tuo-tuo tampek kami mamintak pandapek jo nasehat alah abih pai dipanggil nan kuaso. Tinggalah kami disilau-silau dek urang rantau nan kadang datang kadang tido, bisa sakali sabulan, satahun bahkan sakali saabaik. Tiok sabanta kami badoa kampuang ko co dulu baliak. musajik rami, Tapi semarak, kampuang baisi baliak. Lai ka mungkin tu ?? |
Formulir Komentar | Aturan >>
|
|
 |
|
Pencarian |
Jajak Pendapat |
Top Download |
Link Terbaru | Tampilkan situs Anda di sini.
» Tambah link baru
» Browse link
Artikel Terakhir |
Buku Baru! |
Adat Istiadat Kotogadang

Edisi perdana Oktober 2005
Penyusun : Heratina Mahzar
Hubungi : Ibu Hera, tlp. +62 752 31044.
Pakaian Tradisional Kotogadang
Edisi perdana Oktober 2005
Penyusun : Sita Dewi Razni, Mity J. Juni, Rebecca Dahlan.Penerbit : Yayasan Kerajinan Amai Setia
Hubungi: Ibu Sita Razni Tlp. +62 811 144123 |
Mailing List |
Forum Diskusi |
|
|